Ketimpangan IPM di Kaltim, Kutai Barat dan Mahakam Ulu Butuh Perhatian Serius
Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ekti Imanuel
POSKOTAKALTIMNEWS, SAMARINDA: Ketimpangan dalam capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kalimantan Timur (Kaltim) masih menjadi tantangan nyata, terutama di wilayah barat provinsi. Kabupaten Kutai Barat dan Mahakam Ulu kembali menempati posisi dua terbawah dalam peringkat IPM Kaltim, dengan angka masing-masing 74,76 dan 70,79.
Kondisi ini menunjukkan bahwa
meskipun secara makro Kaltim terus mengalami kemajuan, tidak semua daerah
mengalami dampak pembangunan secara merata. Capaian IPM yang masih rendah
mencerminkan terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan dasar seperti
pendidikan dan kesehatan di kedua kabupaten tersebut.
Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ekti
Imanuel, menyampaikan bahwa rendahnya kualitas sumber daya manusia di wilayah
tersebut harus segera menjadi perhatian utama pemerintah. Menurutnya,
ketimpangan ini tidak bisa diatasi hanya dengan pembangunan infrastruktur fisik
semata.
“Investasi utama yang harus
diprioritaskan adalah pembangunan manusia. Tanpa pendidikan yang layak dan
layanan kesehatan yang memadai, daerah-daerah seperti Kubar dan Mahulu akan
terus tertinggal,” ungkapnya, Kamis (15/5/2025).
Ekti menyoroti bahwa
program-program pemerintah, termasuk yang telah diluncurkan di tingkat provinsi
seperti layanan pendidikan dan kesehatan gratis, perlu dievaluasi kembali
efektivitas distribusinya.
Ia berharap program-program
tersebut menjangkau wilayah-wilayah dengan kebutuhan paling mendesak, bukan
hanya daerah dengan infrastruktur yang sudah memadai.
Selain mendorong pemerataan
program, Ekti juga menekankan pentingnya pembangunan fasilitas pendidikan dan
kesehatan yang berstandar baik di dua kabupaten tersebut.
Ia menyebut bahwa keberadaan
sekolah unggulan dan rumah sakit rujukan dapat menjadi fondasi penting untuk
mempercepat peningkatan kualitas hidup masyarakat di sana.
Namun demikian, ia
mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada aspek fisik semata.
Perlu sensitivitas dari para pemimpin daerah untuk memahami akar persoalan yang
dihadapi masyarakat.
“Pemerintah harus mulai
menjadikan IPM sebagai indikator utama dalam menyusun kebijakan pembangunan,
bukan hanya terpaku pada pembangunan proyek-proyek yang bersifat simbolis,”
tambahnya.
Menurutnya, bila tidak ada
upaya komprehensif untuk meningkatkan kualitas SDM di Kutai Barat dan Mahakam
Ulu, maka kesenjangan sosial dan ekonomi antardaerah di Kaltim akan terus
melebar. Padahal, kedua kabupaten ini memiliki potensi besar jika didukung oleh
fondasi pembangunan manusia yang kuat.
Peningkatan IPM di
daerah-daerah tertinggal tidak hanya penting dari sisi angka statistik, tetapi
juga menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan
di Kaltim. (ADV/DPRDKALTIM)